Postingan

Menyiapkan Bekal dari Lapar

Gambar
Judul: Lapar Penulis: Knut Hamsun Penerjemah: Marianne Katoppo Tebal: 284 hlm Penerbit: Yayasan Obor Pustaka Perihal buku ini, ada sedikit kisah yang ingin kubagi.  Dalam sebuah sesi ngobrol santai di Kanal Youtube Mojok.co, Eka Kurniawan nyeletuk bahwa karier menulisnya tak bisa lepas dari Lapar-nya Knut Hamsun. Sejak saat itu, timbul penasaran dibenakku. Lapar menjadi salah satu buku yang ingin kubaca. Tak berselang lama, aku menemukan beberapa eksemplar buku itu di rak novel Togamas bagian paling bawah-pertanda bukan produk unggulan. Bagaimanapun, desain sampul sebuah buku turut menjadi pertimbanganku untuk membelinya. Begitulah kiranya untuk waktu itu tak kuambil Lapar ini. Sampulnya tak begitu menarik.  Diam-diam Lapar menguap dari daftar bacaan yang ingin kusantap. Kala itu, Dawuk-nya Mahfud Ikhwan sungguh candu bagiku. Ketika rilis serial lanjutannya, spontan kuprioritaskan isi dompet yang tak seberapa ini untuk itu: Anwar Tohari Mencari Mati. Waktu bersaksi bahwa kegan...

Ulid Mengantarku Pulang

Gambar
Sampul yang filosofis (dok) Taruhlah dirimu pada suasana kota dengan deru jalanan tak terbantahkan. Bunyi mesin, kepul hitam asap knalpot, sontakan klakson, deret toko, tukang parkir yang meresahkan, orang asing, kepenatan, dan kepenatan. Kesatuan dari semua itu harus kuhadapi setiap hari. Ditambah lagi hilir mudik orang asing yang datang-berkenalan-mendaku sebagai teman-bertahan sebentar-lalu pergi atau hilang atau pulang. Persinggungan dengan mereka-mereka itu lantas dengan cepat menyisakan cerita pendek saja. Sialnya, yang terjadi padaku, cerita-cerita itu lebih sering berujung buruk. Atau justru sama sekali tak mengandung satupun unsur kebaikan. Tak cuma sekali kena tipu orang dekat, upah kerjaan lebih sering turun telat, dan banyak lagi obrolan sambat. Ketika itulah yang kuinginkan hanya pulang. Kembali pada rumah yang terus memperlakukanku seperti 7 atau 10 tahun lalu.  Sayang, andaikata pulang seenteng saat mengatakannya, barang tentu sudah rutin kulakukan. Apalagi jika buka...

Seperti Puisi Kebahagiaan Tidak Untuk Dicari

Orhan Bey sungguh menyadari bahwa khazanah Turki menyimpan historigrafi peradaban Timur vs Barat yang kompleks. Pada novel "Snow" ini Orhan menyemrawutkan benang-benang sekulerisme Turki, Islamisme Kurdi, dan ateisme Barat di kedalaman jiwa Ka, penyair yang tenggelam dalam keheningan salju di Kota Kars. Benang-benang itu lantas dipilin melalui kisah-kisah bunuh diri gadis madrasah aliyah yang keukeuh tak ingin melepas jilbab sebagaimana yang dititahkan negara, aksi teror gerakan populis islam dalam rangka mengamankan elektabilitas calon walikota yang mereka usung, hingga upaya kudeta berdarah dalam balutan teatrikal kelompok kesenian keliling yang disiarkan langsung oleh stasiun TV lokal.  Sebelum memutuskan menjemput harapan kebahagiaan di Kars, Ka adalah buangan politik Republik Turki di tanah Frankurt. Dalam keterasingan, ia bersafari ke kota-kota Eropa untuk memenuhi undangan membaca puisi berbahasa Turki dan dari aktivitas itulah ia diberi label penyair. Di Kars, Ka bere...

Oalah..Ternyata Seperti Ini Rasanya Jadi Pengajar

Gambar
Mode fokus dihadapan laptop. (dok) Seorang kawan dekat saya mengatakan kalimat itu saat dua murid yang ia ajar gagal merenggut juara pada gelaran kompetisi suatu mata pelajaran SMA yang dihelat oleh sebuah universitas  negeri di Kota Malang. Walau pada kalimat itu mengandung kekecewaan atas capaian muridnya, kawan dekat saya ini berupaya menceritakan kelebihan-kelebihan anak didiknya di hadapan saya. Saya pikir, begitulah resep seorang lelaki mengobati harapan yang terobek. Saya juga pernah melakukan upaya semacam itu. Sehingga saya dapat katakan bahwa yang demikian itu tak lebih dari sekadar usaha membunuh kecewa. Bukankah menghibur diri sendiri adalah  jalan ninja  cara terlemah seorang lelaki untuk menenangkan hati? Tahu kalian mengapa? Karena mereka  sungkan  untuk menangis!  Ingat ini lekat lekat, dik! Baiklah, tidak baik bila kita kelewat mengecilkan kebesaran para lelaki. Kembali lagi ke cerita kawan  saya. Kelebihan yang disebut kawan deka...

Kita Tertinggal Dua Generasi Tapi Jangan Sertamerta Ingin Mengejar

Gambar
(sumber: VOA Indonesia) Kurang lebih tiga pekan lalu saya menemui seorang Kepala Bagian Penangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang. Jauh hari sebelumnya, saya sudah bersiap dengan barbagai kemungkinan buruk yang kerap terjadi. Mengagendakan pertemuan dengan birokrat adalah urusan rumit. Selain karena mereka duduk sebagai pejabat publik yang lekat dengan agenda insidental, kita juga perlu sadar tentang siapa kita ini yang tak lebih dari orang awam dengan segala kegaulauan di hatinya . Sebab itu, sebaiknya harus ada dua atau tiga rencana untuk berjaga. Benar saja, dihari yang sudah disepakati sebelumnya, pada jam yang sudah ditentukan, yang bersangkutan berkelit ada rapat dengan DPRD. Untunglah waktu itu saya punya rencana cadangan yang bisa membackup kekecewaan. Ngopi bareng kawan kuliah!. Barulah esoknya, sehabis salat Jumat kami akhirnya bertemu. Satu lagi yang perlu diingat, jika menemui seorang pejabat pria pada rentang usia berapapun jangan sampai lupa mengajak serta teman...

Cerita Bambang

Gambar
 (Sumber: Faceebook Albar Malang) Satu tahun lalu, seorang teman kuliah menitipkan kenari miliknya pada saya. Itu karena disaat bersamaan ia sibuk merawat labet (lovebird)-yang kala itu harganya tengah naik daun. Agenda kontes kicau labet yang padat membuat ia tak sadar jika ada seekor kenari yang boleh jadi sedang cemburu akibat tak pernah ia sentuh. Kebetulan pula, waktu itu saya sedang mencari burung kicau untuk menemani  seekor murai balak milik guru saya yang lebih dulu saya rawat. Jadilah seekor kenari itu saya pinjam. Saya masih ingat betapa menyedihkan kondisi kenari itu. Beberapa lidi sangkarnya "njepat". Sekelompok semut diam-diam membuat sarang di pojok bawah sangkar-tepat di zona akumulasi kotoran. Ditambah lagi pada dasar wadah minumnya mulai berlumut tipis. Pelan-pelan kondisi itu saya perbaiki. Lidi yang keluar jalur saya lem.Wadah minum saya bersihkan. Sementara untuk mengatasi semut, saya oleskan oli di rangka-rangka sangkar. Meski tak ada perubahan signifika...